Sabtu, 29 Juni 2013 49 komentar

Kisah kasih disekolah


Pertengkaran merupakan hal yang sering kita temui, dimana-mana pasti ada saja orang yang dulunya berteman tapi sekarang bermusuhan, dan ternyata itu terjadi karena hal yang sepele lalu dibesar-besarkan.

Sewaktu SMP, saya dan teman kelas saya pernah bermusuhan sampai-sampai tidak saling berbicara, bahkan tidak ingin bertemu satu sama lain. Pertengkaran itu terjadi hanya karena kesalah pahaman kecil. Dan anehnya saat kami bertengkar entah teman saya itu memberitahu keburukan saya pada yang lainnya atau memang teman saya pandai berteman, hampir semua  teman di kelas saya seolah-olah lebih memilih berteman dengan teman saya itu. Jadi saat itu dikelas, teman saya hanyalah beberapa orang, karena mereka tidak memperdulikan pertengkaran kami. Tiap waktu istirahat, ia dan teman teman saya yang lain sudah membuat kelompok didalam kelas, dan saat saya masuk kedalam kelas, ejek- mengejek pun terjadi, teman-teman yang lain mulai melihat saya dengan tatapan yang miring. Sedangkan teman-teman yang masih berteman dengan saya hanya diam.
45 komentar

Berbeda tapi satu

Kata orang - orang masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan, kita sudah diberi kebebasan dan kepercayaan dari orang tua untuk mengatur diri sendiri. Tapi bagaimana dengan mereka yang bersekolah di sekolah berasrama ? Banyak orang yang berpendapat bahwa sekolah asrama itu penuh aturan, kegiatan kita dilakukan sesuai jadwal dan tampaknya tidak ada kesenangan.

SMA saya merupakan sekolah yang berasrama, begitu banyak siswa yang datang dari berbagai sekolah bahkan daerah. Bahasa, sifat dan kebiasaanpun bercampur aduk. Awalnya memang susah untuk beradaptasi dengan keadaan. Ada kalanya teman sekamar memiliki sifat yang sangat bertentangan dengan saya, ada juga teman yang sudah tidak senang sejak awal bertemu. Kelompok- kelompok pertemanan mulai muncul, mulai dari teman-teman yang sekamar, satu SMP, maupun yang berkenalan saat MOS. dalam kelompok tersebut mulai terdengar gosip - gosip yang tidak enak tentang teman-teman yang lain. Sehingga, bisa dikatakan, kalau kita sudah menghakimi orang tanpa mengenalnya terlebih dahulu.

Jumat, 28 Juni 2013 54 komentar

Forgive and forget

Damai itu identik dengan memaafkan dan melupakan, tapi saat ini kenyataannya memaafkan belum tentu melupakan, begitu juga sebaliknya melupakan bukan berarti sudah memaafkan.

Saya memiliki pengalaman menarik, sewaktu SMP ada teman sekelas yang tomboy, dia sangat suka mengganggu saya, atau sekarang kita kenal dengan istilah di "bully", tentu saja tidak ada orang yang ingin diperlakukan seperti itu, rasa kesal, benci dan takutpun muncul, rasanya sekolah itu bukan tempat yang aman lagi. dan akhirnya saya tidak ingin lagi berteman dengannya.

Memang begitu sulit melupakan hal yang pernah membuat kita tersiksa maupun terluka, apalagi memaafkan orang yang melakukannya. Namun seiring bertambahnya kedewasaan kita, kita akan sadar bahwa dengan memaafkan, kita akan mudah melupakan perbuatan jahat orang pada kita, dan hal itu akan memberikan rasa kedamaian dalam diri. Untuk apa kita menyimpan dendam dalam diri kita, membalas perbuatan merekapun tidak akan membuat kita merasa damai, dan itu hanya akan menjadikan diri kita seperti mereka. Jadikan itu sebagai sebuah pengalaman dan pembelajaran.

50 komentar

First post

first post
 
;